Tangisan Anak Jalanan

Jam di tangan ku menunjukan pukul 20.30. Aku baru saja menyelesaikan tugas kelompok bersama teman-teman ku di kampus. Karena ruma teman ku tidak ada yang searah,  akhirnya aku menunggu ayah sendirian di depan kampus dan saat aku menunggu ayah menjemput ku, tiba-tiba sesaat bulu kuduk ku merinding, aku mendengar rintihan seoarang anak kecil dari belakang tubuh ku. Saking aku penasaran, dengan perasaan penuh takut ku beranikan diri  menengok kebalakang dan ternyata  tangisan itu datang dari seorang anak kecil dengan baju lusuh dan kotor. Ia menangis terisak-isak sambil menghitung uang hasil ngamennya. “Mungkin hasil ngamennya dicuri kali yah makanya dia menangis.” pikir ku. Karena aku kasihan padanya kemudian aku hampirilah dia, mungkin saja aku bisa membantu anak itu.

Aku: kamu kenapa nangis

Anjal: engga apa-apa (sambil mengacuhkan aku)

Aku: uang ngamen kamu di curi ya?

Anjal: (lagi-lagi ia hanya menggelengkan kepalanya)

Aku: trus kenapa kamu nangis?

Anjal: hasil ngamen aku hari ini Cuma 60.000.-

Aku: Memangnya kurang yah segitu.  emang kamu biasanya sehari dapet berapa?

Anjal: kalo enggak sampai 100.000 pulang-pulang aku diomelin mama sama bapak.

Tersentak aku kaget. Orang tua yang seharusnya menafkahi mereka justru memeras anaknya?? Tanpa pikir panjang ku keluarkan uang 40.000 dari kantong celana ku dan ku berikan untuk anak jalanan itu. Semenjak mala ini, aku bertekat dalam diri ku. Kalau nanti aku punya rezeki yang banyak aku akan mendirikan sekolah untuk ana-anak seperti mereka. amin*

 

 

*Cerita diatas merupakan kisah nyata yang dikembangkan. Cerita sesungguhnya adalah saat kami berkunjung ke tempat biasa anak jalanan mengamen, di salah satu daerah di Tangerang dan ketika kami menemui mereka, tiba-tiba satu orang dari mereka menangis, sebenarnya mayang (nama anak jalanan yang menangis) tidak mengatakan menapa ia menangis, kemudian kami memperoleh cerita dari temannya kalau mayang menangis karena uang ngamennya tidak mencapai target yang ditentukan orang tuanya. Karena hal itu mayang pergi mengamen lagi, padahal saat itu waktu telah menunjukan pukul 20.30. Anak kecil seperti mayang berkeliaran malam-malam di jalan sambil mengamen, coba kita bayangkan, apa yang kita rasakan jika ada diposisi mereka?

 

 

Tentang pedulipendidikananakjalanan

Gerakan ini bertujuan mengajak orang-orang untuk ikut serta peduli akan pendidikan anak jalanan, khususnya di Ibu kota Jakarta. Dimana anak jalanan di Jakarta sudah sangat banyak, dan diantara mereka hanya sedikit yang pernah mengenyam dunia pendidikan. Untuk itu, kami di sini ingin mengajak agar orang-orang menyadari bahwa anak jalanan pun berhak mendapatkan pendidikan.
Pos ini dipublikasikan di Tentang mereka. Tandai permalink.

12 Balasan ke Tangisan Anak Jalanan

  1. LPKI JATENG berkata:

    salam🙂

  2. dinaaa berkata:

    Parah banget deh orang tua nya masa anak kecil udah disuruh nyari duit sebesar itu

  3. niaaay berkata:

    trus kalau anak yang mencari nafkah orang tuanya kerja apa yah?

  4. yati berkata:

    kalau saya jadi anak jalanan, mending kabur aja deh dari rumah

  5. nita berkata:

    orang tua ko jahat banget begitu yah

  6. lala berkata:

    mari kita bantu mereka. agar mereka tidak menjadi korban eksploitasi orang tuanya sendiri🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s